Besok,
tepatnya tanggal 18 maret 2013, perkuliahan akan dimulai kembali di kampus
saya, Universitas BSI Bandung dan kampus BSI lain di seluruh Indonesia. Kuliah lagi
artinya belajar lagi, cari buku atau artikel referensi lagi, mencatat,
meringkas, mengerjakan tugas, mengikuti mid test, uas, dlsb. Bagian meringkas
dan mencatat tergantung pemikiran sang dosen. Terkadang malah takada catatan
sama sekali yang diberikan dosen. Semua materi meluncur deras dari slide yang
sudah lebih dulu di unduh oleh mahasiswa seminggu sebelum perkuliahan dimulai. Bahkan
ada dosen yang cuma menggantungkan diri dan mahasiswanya (kami) pada materi
yang ada di slide begitu saja tanpa ada tambahan referensi dari luar atau
setidaknya pengetahuan sang dosen. Jadi benar atau tidak sesuatunya yah tergantung
slide yang ada.
Kalau
anda (pembaca) berada di tahun angkatan yang sama dengan saya (saya lulus SMA
di tahun 2005, kelahiran 1987) mungkin mengenal dan ingat dengan istilah CBSA.
CBSA dalam artian sebenarnya merupakan singkatan dari Cara Belajar Siswa Aktif.
Dimaksudkan agar siswa yang sebelumnya hanya menerima suapan dari guru juga
mulai aktif bertanya atau mungkin menyanggah pendapat guru yang mungkin ga update. Sayangnya tidak semua guru bisa menerima pendapat siswa dan membenarkannya. CBSA sendiri akhirnya
mempunyai singkatan lain yaitu Catat Buku Sampai hAbis. Guru – guru meminta
siswa memiliki buku referensi selain dari buku paket yang disediakan sekolah,
kemudian meminta siswa membuat ringkasan dari pelbagai sumber sebagai tugas. Nantinya
ringkasan ini akan dinilai oleh guru bersangkutan. Setelahnya guru bisa
melakukan ulangan mendadak yang bahkan materinya ada yang tidak diketahui siswa
dan tidak ada di buku referensi yang dimilikinya.
Tentu tidak
semua guru begitu. Sepanjang ingatan saya ada satu orang guru yang menyediakan
waktu, tenaga dan pikirannya untuk merangkum pelajaran di rumah kemudian
membagikannya kepada siswa, mempunyai panggilan “Ibu Karton” di sekolah. Kebaikan
hati guru saya ini adalah setiap kali mengajar beliau sudah menyediakan berlembar
lembar materi yang telah dirangkum. Materi tersebut dituliskan di lembaran
kertas karton dengan spidol. Pertama ibu guru akan menerangkan materi untuk
kemudian kami, para siswa, menulis rangkuman materi yang telah ditempel di
papan. Cara mengajar seperti ini mirip dengan slide slide yang ada di
powerpoint atau pdf yang sekarang ini dengan mudahnya ditembakkan dengan
in-focus atau projector. Ada begitu banyak pilihan font, untungnya saat itu
tulisan guru saya indah dilihat dan dibaca, ada banyak pilihan background,
warna, gambar yang bisa disisipkan. Guru saya saat itu, di usianya yang tidak
muda lagi begitu menyayangi kami. Bisa saja kan, ibu guru memilih menuliskan
materi pelajaran di kertas hvs untuk kemudian kami membayar iuran fotokopi
tanpa harus repot menyalinnya kembali. Tapi tidak ada opsi seperti itu. Opsi memungut
bayaran dari siswa hanya akan memancing keributan. Uang
merupakan hal yang paling pelik dan kalau bisa jangan sampai diusik. Penambahan
buku referensi diluar buku cetak dari sekolah saja sudah menimbulkan omongan
panjang dari orangtua siswa. Tidak semua memang, tapi pasti selalu ada.
Saat teringat
lagi hal ini sekarang, mungkin saat itu Ibu guru melihat metode pembelajaran
dengan menggunakan slide yang ditembakkan dengan proyektor dan ingin menerapkannya
di sekolah kami. Namun karena keterbatasan dana dan peralatan, ibu guru memilih
untuk melakukan sesuatu dengan kreatifitasnya sendiri. Menuliskan rangkuman
materi di kertas karton, terkadang kertas minyak alih alih menggunakan komputer
dan proyektor yang tidak mungkin (pada saat itu) disediakan oleh sekolah.
Ini
hanya sebuah tulisan untuk mengingat kebaikan hati seorang guru yang sayangnya saya
tidak ingat nama beliau yang sebenarnya. Terima kasih guru, jasamu takkan
kulupakan sepanjang umurku. *17 maret 2013, bandung*
No comments:
Post a Comment