Showing posts with label kampus. Show all posts
Showing posts with label kampus. Show all posts

Saturday, March 16, 2013

Ibu KARTON


Besok, tepatnya tanggal 18 maret 2013, perkuliahan akan dimulai kembali di kampus saya, Universitas BSI Bandung dan kampus BSI lain di seluruh Indonesia. Kuliah lagi artinya belajar lagi, cari buku atau artikel referensi lagi, mencatat, meringkas, mengerjakan tugas, mengikuti mid test, uas, dlsb. Bagian meringkas dan mencatat tergantung pemikiran sang dosen. Terkadang malah takada catatan sama sekali yang diberikan dosen. Semua materi meluncur deras dari slide yang sudah lebih dulu di unduh oleh mahasiswa seminggu sebelum perkuliahan dimulai. Bahkan ada dosen yang cuma menggantungkan diri dan mahasiswanya (kami) pada materi yang ada di slide begitu saja tanpa ada tambahan referensi dari luar atau setidaknya pengetahuan sang dosen. Jadi benar atau tidak sesuatunya yah tergantung slide yang ada.
Kalau anda (pembaca) berada di tahun angkatan yang sama dengan saya (saya lulus SMA di tahun 2005, kelahiran 1987) mungkin mengenal dan ingat dengan istilah CBSA. CBSA dalam artian sebenarnya merupakan singkatan dari Cara Belajar Siswa Aktif. Dimaksudkan agar siswa yang sebelumnya hanya menerima suapan dari guru juga mulai aktif bertanya atau mungkin menyanggah pendapat guru yang mungkin ga update. Sayangnya tidak semua guru bisa menerima pendapat siswa dan membenarkannya. CBSA sendiri akhirnya mempunyai singkatan lain yaitu Catat Buku Sampai hAbis. Guru – guru meminta siswa memiliki buku referensi selain dari buku paket yang disediakan sekolah, kemudian meminta siswa membuat ringkasan dari pelbagai sumber sebagai tugas. Nantinya ringkasan ini akan dinilai oleh guru bersangkutan. Setelahnya guru bisa melakukan ulangan mendadak yang bahkan materinya ada yang tidak diketahui siswa dan tidak ada di buku referensi yang dimilikinya.
Tentu tidak semua guru begitu. Sepanjang ingatan saya ada satu orang guru yang menyediakan waktu, tenaga dan pikirannya untuk merangkum pelajaran di rumah kemudian membagikannya kepada siswa, mempunyai panggilan “Ibu Karton” di sekolah. Kebaikan hati guru saya ini adalah setiap kali mengajar beliau sudah menyediakan berlembar lembar materi yang telah dirangkum. Materi tersebut dituliskan di lembaran kertas karton dengan spidol. Pertama ibu guru akan menerangkan materi untuk kemudian kami, para siswa, menulis rangkuman materi yang telah ditempel di papan. Cara mengajar seperti ini mirip dengan slide slide yang ada di powerpoint atau pdf yang sekarang ini dengan mudahnya ditembakkan dengan in-focus atau projector. Ada begitu banyak pilihan font, untungnya saat itu tulisan guru saya indah dilihat dan dibaca, ada banyak pilihan background, warna, gambar yang bisa disisipkan. Guru saya saat itu, di usianya yang tidak muda lagi begitu menyayangi kami. Bisa saja kan, ibu guru memilih menuliskan materi pelajaran di kertas hvs untuk kemudian kami membayar iuran fotokopi tanpa harus repot menyalinnya kembali. Tapi tidak ada opsi seperti itu. Opsi memungut bayaran dari siswa hanya akan memancing keributan. Uang merupakan hal yang paling pelik dan kalau bisa jangan sampai diusik. Penambahan buku referensi diluar buku cetak dari sekolah saja sudah menimbulkan omongan panjang dari orangtua siswa. Tidak semua memang, tapi pasti selalu ada.
Saat teringat lagi hal ini sekarang, mungkin saat itu Ibu guru melihat metode pembelajaran dengan menggunakan slide yang ditembakkan dengan proyektor dan ingin menerapkannya di sekolah kami. Namun karena keterbatasan dana dan peralatan, ibu guru memilih untuk melakukan sesuatu dengan kreatifitasnya sendiri. Menuliskan rangkuman materi di kertas karton, terkadang kertas minyak alih alih menggunakan komputer dan proyektor yang tidak mungkin (pada saat itu) disediakan oleh sekolah.
Ini hanya sebuah tulisan untuk mengingat kebaikan hati seorang guru yang sayangnya saya tidak ingat nama beliau yang sebenarnya. Terima kasih guru, jasamu takkan kulupakan sepanjang umurku. *17 maret 2013, bandung*

Friday, March 15, 2013

Sepatu Baru :3

as like the judul, tulisan ini mengangkat kisah tentang sepatu baru yang baru saja saya beli hari ini, jumat 15 maret 2013. sebenarnya sepatu yang saya beli sama seperti sepatu kebanyakan yang sedang laris di pasaran saat ini. dengan harga yang juga hampir hampir mirip dengan yang saya lihat di online shop yang ada di facebook (eh sebenarnya lebih murah sih). dan inilah penampakan sang sepatu:



lagi lagi sepatu berwarna merah!! (ini sepatu ketiga yang saya miliki yang memiliki unsur warna merah). well, sebelumnya saya bermaksud membeli sepatu ini lewat online shop, tapi apa daya online shop yang (mungkin) saya percaya hanya menyediakan sepatu ini secara pre-order yang artinya masih ada waktu lagi untuk menunggu hingga sepatu ini sampai di tangan saya. dan itu benar benar bikin males! kenapa? karena saya sedang ingin sekali punya sepatu baru.
Nah ini sepatu saya beli di ground floor di Lucky square - antapani, stand nya di depan Yogya. harganya Rp 65.000 saja. dasar saya memang begini, begitu ketemu satu barang yang disuka langsung tanpa ba-bi-bu minta teteh penjualnya ngebungkus, tanpa nego harga lagi (well, saya juga ga bisa tawar menawar). waktu bayar dengan selembar uang 100ribu, sang penjual meminta uang 10ribu, trus kembaliannya dikasih 50ribu, katanya uang penglaris atau apalah gitu. saya senyum senyum saja, toh yang saya inginkan udah ditangan. 
sebenarnya waktu sedang pilih pilih warna saya bingung mau beli yang biru (maaf ga ada fotonya) atau yang merah ini. Trus si aa penjualnya bilang (penjualnya aa dan teteh) warna yang laris itu merah dan nude. karena baru baru ini saya beli sepatu yang warna nya nude, jadi ga terlalu pengin beli lagi yang warnanya sama. but yah finally i choose the red one, haha. udah terlanjur cinta sih yah ama warnanya, jadi ga mikir ampe seribu kali lagi. 

semoga akan banyak kenangan yang terukir diantara kami, dan semoga sepatu ini berumur panjang. amiiiiiiiinnnnn :D

Tuesday, November 6, 2012

Riwayat penolakan


Kalo dulu saat ditolak sekali, langsung down pastinya. Sekarang? Saya tau kok bukan cuma saya yang pernah ditolak, jadi kenapa harus dibikin galau.. 
Ini beberapa alasan yang pernah saya dapat:
1.  “mikir – mikir dulu deh”
Ini jawaban paling klise yang sering saya temui dan paling susah ditebak berapa lama yang diajak mau mikir – mikir untuk memberi keputusan ‘ya atau tidak'.
2. “saya Tanya suami dulu yah”
Ini jawaban beberapa istri (kebanyakan pengantin baru), mungkin maksudnya pengen terlihat sebagai istri yang nurut sama suami, tapi ayolah kita ga tau lho kapan tiba – tiba kita butuh dana lebih dan gaji suami ga cukup untuk itu. Atau ga mau kan nyuri – nyuri tabungan pendidikan anak atau tabungan lain untuk hal – hal dadakan. 
3. “saya Tanya Ibu saya dulu”
Tipe anak berbakti, nurut pada orangtua. Kalo ga boleh kata mamah ya ga dilakuin. Tapi ingat ya nak, modal awalnya cuma Rp 39900, kamu bisa bayar pake uang jajan kamu lho, ijin ke orangtua buat minta restu dan doa nya aja yah biar bisnis kamu sukses. 
4. “saya ga bakat dagang”
Lha, saya juga ga minta kamu dagang. Dan ga semua orang yang berhasil di bisnis ini punya bakat dagang. Sebenarnya ‘bakat’ itu apa sih? Bawaan lahir atau sesuatu yang kita asah dengan cara terus mencoba walau terus terusan gagal? 
5. “temen saya udah join juga, saya nawarin ke siapa lagi?”
Boleh saya tau ada berapa orang temen kamu yang udah jadi member? Karena di lingkungan saya sekarang ini (kampus dan kost) juga udah banyak member oriflame yang bersebaran tapi masih ada lho yang pesen produk dari saya. 
6. “temen saya yang udah join lama aja, omzetnya segitu gitu aja, ga berani akh”
kalo nyontek tuh ke yang pintar, yang sukses, jangan diliat yang gagal nya aja. Banyak kan yang udah sukses di oriflame dan pengalaman nya bisa diakses siapa aja di media social atau mbah google. 
7. “saya paham betul lingkungan (tempat tinggal) saya, ga kan ada yang mau beli lah”
Mba/mas, tempat tinggal bukan cuma rumah atau saudara. Ke tempat kerja atau ke kampus atau sekolah sekarang naek apa? Angkot, bus, metromini? Ada kan orang – orang baru yang bisa ditawarin, dikenalin ama bisnis yang luar biasa ini. Ada teman baru di facebook, twitter, BBG (walo saya sendiri ga punya BB).

Kenapa harus pusing kalo sebenernya ga ada yang perlu dipusingin. Motivasi diri sendiri itu yang paling penting buat kita memulai sesuatu. Dan semua hal besar selalu dimulai dari hal kecil. Bahkan pohon yang besar pun awalnya dari benih kecil, menjadi besar karena pupuk dan nutrisi yang cukup. Ga ada hal besar yang muncul tiba – tiba.
Mulailah dari diri sendiri, dari hal yang paling kecil.
Mulailah perjalanan anda..!

Tuesday, September 20, 2011

"Woman"

Jadi begini ceritanya. Waktu lagi duduk duduk ama temen temen di teras gedung utama, kita disamperin neh ama satu orang yang keliatan lagi bingung banget
maba: "teh, mau nanya ruang ormik dimana yah?"
saya: "jurusan apa?"
maba: "teknik"
saya: (berlagak berpikir) "di ruang berapa?"
maba: "16.3A"
saya: "bukan kelas kamu tapi ruangannya"
Sang maba yang bingung makin bingung. Buka map trus ngeliat formulir dari universitas.
maba: "bener teh, 16.3A" (sambil nunjukin form nya)
sayangnya memang tidak ada keterangan ormik di ruangan berapa.
saya: "coba kamu tanya ke admin deh biar lebih jelas".
Akhirnya sang maba pun menuju baak. Selang beberapa saat, sang maba kembali. Kali ini dia bertanya pada temen temen saya yang masih diluar gedung. Karena tidak terdengar, saya kira mungkin dia menanyakan ruangan nomor sekian ada dimana-ruang kuliah di kampus saya diberi penomoran. Sang maba menengok ke atas, mungkin di lantai dua atau tiga. Masih bingung laki laki itu mencari cari letak tangga ke lantai atas. Teman saya menunjuk ke arah dalam gedung. Tangganya ada di dalam. Setelah berterimakasih sang maba segera masuk. Dengan yakin dia berjalan lurus saja sampai mentok di sebuah pintu yang terbuka. Laki laki itu masuk. Dua menit kemudian dia keluar sambil senyum senyum malu.Sebenarnya saya dan beberapa teman perempuan merasa lebih malu saat laki laki itu masuk dengan yakinnya. Ada tulisan "woman" di pintu masuk!