Showing posts with label teman. Show all posts
Showing posts with label teman. Show all posts

Tuesday, November 6, 2012

Riwayat penolakan


Kalo dulu saat ditolak sekali, langsung down pastinya. Sekarang? Saya tau kok bukan cuma saya yang pernah ditolak, jadi kenapa harus dibikin galau.. 
Ini beberapa alasan yang pernah saya dapat:
1.  “mikir – mikir dulu deh”
Ini jawaban paling klise yang sering saya temui dan paling susah ditebak berapa lama yang diajak mau mikir – mikir untuk memberi keputusan ‘ya atau tidak'.
2. “saya Tanya suami dulu yah”
Ini jawaban beberapa istri (kebanyakan pengantin baru), mungkin maksudnya pengen terlihat sebagai istri yang nurut sama suami, tapi ayolah kita ga tau lho kapan tiba – tiba kita butuh dana lebih dan gaji suami ga cukup untuk itu. Atau ga mau kan nyuri – nyuri tabungan pendidikan anak atau tabungan lain untuk hal – hal dadakan. 
3. “saya Tanya Ibu saya dulu”
Tipe anak berbakti, nurut pada orangtua. Kalo ga boleh kata mamah ya ga dilakuin. Tapi ingat ya nak, modal awalnya cuma Rp 39900, kamu bisa bayar pake uang jajan kamu lho, ijin ke orangtua buat minta restu dan doa nya aja yah biar bisnis kamu sukses. 
4. “saya ga bakat dagang”
Lha, saya juga ga minta kamu dagang. Dan ga semua orang yang berhasil di bisnis ini punya bakat dagang. Sebenarnya ‘bakat’ itu apa sih? Bawaan lahir atau sesuatu yang kita asah dengan cara terus mencoba walau terus terusan gagal? 
5. “temen saya udah join juga, saya nawarin ke siapa lagi?”
Boleh saya tau ada berapa orang temen kamu yang udah jadi member? Karena di lingkungan saya sekarang ini (kampus dan kost) juga udah banyak member oriflame yang bersebaran tapi masih ada lho yang pesen produk dari saya. 
6. “temen saya yang udah join lama aja, omzetnya segitu gitu aja, ga berani akh”
kalo nyontek tuh ke yang pintar, yang sukses, jangan diliat yang gagal nya aja. Banyak kan yang udah sukses di oriflame dan pengalaman nya bisa diakses siapa aja di media social atau mbah google. 
7. “saya paham betul lingkungan (tempat tinggal) saya, ga kan ada yang mau beli lah”
Mba/mas, tempat tinggal bukan cuma rumah atau saudara. Ke tempat kerja atau ke kampus atau sekolah sekarang naek apa? Angkot, bus, metromini? Ada kan orang – orang baru yang bisa ditawarin, dikenalin ama bisnis yang luar biasa ini. Ada teman baru di facebook, twitter, BBG (walo saya sendiri ga punya BB).

Kenapa harus pusing kalo sebenernya ga ada yang perlu dipusingin. Motivasi diri sendiri itu yang paling penting buat kita memulai sesuatu. Dan semua hal besar selalu dimulai dari hal kecil. Bahkan pohon yang besar pun awalnya dari benih kecil, menjadi besar karena pupuk dan nutrisi yang cukup. Ga ada hal besar yang muncul tiba – tiba.
Mulailah dari diri sendiri, dari hal yang paling kecil.
Mulailah perjalanan anda..!

Sunday, October 2, 2011

haruka 17

haruka 17, kenapa ya ceritanya tiba tiba melesat begitu? Kalo mau nyalahin ya Nanako hasegawa penyebabnya. kalau dia ga rapuh, kalau dia ga masih tergantung pada Bos Fukuhara, pasti domu management tetap ada. trus momohara masih tetap jadi manajer haruka, bukannya si Yoichi Matsunaga dari Fine production.
masalah yang dia hadapi sekarang umur aslinya ketahuan. haruka yang sebenarnya 24 tahun dipalsukan menjadi berumur 17 tahun oleh bos fuku. tapi mau 24 atau 17 tahun, haruka tetap haruka. selalu kuat dan tersenyum juga bersemangat. apalagi di vol. 13, haruka dan tsubasa dari smarki.jr resmi pacaran.
saya jadi iri. memang perkembangan hubungan mereka berjalan sangat lambat. haruka yang lebih tua menjadi tempat bersandar tsubasa. tapi haruka tetap perempuan, yang juga bisa rapuh. dan butuh tsubasa untuk menemani dan mendengarkan keluh kesahnya.
cewek yang lebih tua bukan berarti sudah lebih dewasa. walaupun dari luar kami tampak kuat dan kokoh, tapi kami tetap seperti kaca yang bisa retak. kami tak bisa menjadi kakak bagi cowok yang lebih muda, tapi kami bisa menjadi teman atau sahabat.
semoga hubungan haruka dan tsubasa berakhir dengan happy end.

Tuesday, September 20, 2011

"Woman"

Jadi begini ceritanya. Waktu lagi duduk duduk ama temen temen di teras gedung utama, kita disamperin neh ama satu orang yang keliatan lagi bingung banget
maba: "teh, mau nanya ruang ormik dimana yah?"
saya: "jurusan apa?"
maba: "teknik"
saya: (berlagak berpikir) "di ruang berapa?"
maba: "16.3A"
saya: "bukan kelas kamu tapi ruangannya"
Sang maba yang bingung makin bingung. Buka map trus ngeliat formulir dari universitas.
maba: "bener teh, 16.3A" (sambil nunjukin form nya)
sayangnya memang tidak ada keterangan ormik di ruangan berapa.
saya: "coba kamu tanya ke admin deh biar lebih jelas".
Akhirnya sang maba pun menuju baak. Selang beberapa saat, sang maba kembali. Kali ini dia bertanya pada temen temen saya yang masih diluar gedung. Karena tidak terdengar, saya kira mungkin dia menanyakan ruangan nomor sekian ada dimana-ruang kuliah di kampus saya diberi penomoran. Sang maba menengok ke atas, mungkin di lantai dua atau tiga. Masih bingung laki laki itu mencari cari letak tangga ke lantai atas. Teman saya menunjuk ke arah dalam gedung. Tangganya ada di dalam. Setelah berterimakasih sang maba segera masuk. Dengan yakin dia berjalan lurus saja sampai mentok di sebuah pintu yang terbuka. Laki laki itu masuk. Dua menit kemudian dia keluar sambil senyum senyum malu.Sebenarnya saya dan beberapa teman perempuan merasa lebih malu saat laki laki itu masuk dengan yakinnya. Ada tulisan "woman" di pintu masuk!

Wednesday, March 23, 2011

Teman Perjalanan Pagi ini

Pagi ini, seperti biasa, saya menyusuri jalan yang sama. Jalan yang membawa saya ke kampus. Melewati semacam perkampungan yang diriuhi anak anak bahkan orang tua, yang duduk duduk di teras rumah. Takseorang pun yang saya kenal, hanya sekedar pernah melihat karena kebiasaan mereka selalu menemani perjalanan limabelas menit saya setiap pagi. Mungkin suatu saat saya akan berbincang dan mengenal mereka lebih dekat entah untuk alasan apa.

Jalanan yang saya lewati merupakan sebuah gang yang juga memiliki cabang cabang kecil lain di beberapa tempat. Juga sebuah gang menuju komplek perumahan. Mata saya tersirobok pada suatu sosok. Sosok yang saya kenal betul selama satu semester. Sosok seorang teman yang senang akan kesendiriannya. Sosok yang mengenakan sweater abu abu dengan kupluk di kepala dan tas punggung. Sedangkan tampak depan, sosok itu selalu menyampirkan headset ke telinganya. Mungkin mendengar lagu kesukaannya atau mungkin sedang berbincang asik di telepon.

Sebelumnya saya sudah mengetahui bahwa seorang teman tinggal di daerah yang sama dengan saya. Tapi belum pernah sekalipun kami berpapasan di jalan. Atau seperti pagi ini saat saya melihat sosoknya yang berjalan dengan caranya yang khas, di depan saya, keluar dari arah kompleks perumahan. Sengaja saya pelankan langkah, pikiran saya bermunculan banyak pertanyaan. Dan kalimat “AHA, akhirnya hari itu datang juga”. Saya merangkai untaian kata yang sekarang saya tuangkan disini. Beberapa pertanyaan yang entah kapan akan saya tanyakan langsung padanya. Pada teman yang lebih suka menutup dirinya.

Bandung, 24 March 2011