Monday, October 17, 2011
Friday, October 14, 2011
Pengenalan Komputer(?)
hari Ini diajarin "pEngenalan Komputer". Bukan di kelas, tapi via UKM Fokmatif. tapi, MasyaAllah yah, saya masih benar benar tidak mengerti. Walau di kelas sudah belajar juga tentang Mas dan Mbak Hardware, tepatnya di mata Kuliah Sistem Operasi, tapi tetep aja gak ngerti. walHasil saya cuma bisa melongo dan manggut manggut saja mendengarkan penjelasan instruktur :(.. Huft so bad today!
Chipset, SATA, ATA, DDR, motherboard, intel, pasang ini pasang itu, saya benar benar blank!
Chipset, SATA, ATA, DDR, motherboard, intel, pasang ini pasang itu, saya benar benar blank!
Tuesday, October 11, 2011
teTha's Story
SAGITARIUS
teTha: "yah, aYah"
aYah: "Ya!"
teTha:"Ayah sagitarius kan ya..?"
ayah: "iyah"
teTha: "Kata majalah, Sagitarius tuh tukang PEmarah"
aYah: "kata Siapa?"
teTha: "kata majalah"
aYah: (mulai agak kesal) "jangan percaya yang begitu"
teTha: "tadi teTha liat gambar Bintang-bintangnya"
aYah: "liat Bintang yang asli aja, yang di Langit!"
teTha: "iyah, nanti Malam liat yah"
teTha: "yah, aYah"
aYah: "Ya!"
teTha:"Ayah sagitarius kan ya..?"
ayah: "iyah"
teTha: "Kata majalah, Sagitarius tuh tukang PEmarah"
aYah: "kata Siapa?"
teTha: "kata majalah"
aYah: (mulai agak kesal) "jangan percaya yang begitu"
teTha: "tadi teTha liat gambar Bintang-bintangnya"
aYah: "liat Bintang yang asli aja, yang di Langit!"
teTha: "iyah, nanti Malam liat yah"
Sunday, October 2, 2011
haruka 17
haruka 17, kenapa ya ceritanya tiba tiba melesat begitu? Kalo mau nyalahin ya Nanako hasegawa penyebabnya. kalau dia ga rapuh, kalau dia ga masih tergantung pada Bos Fukuhara, pasti domu management tetap ada. trus momohara masih tetap jadi manajer haruka, bukannya si Yoichi Matsunaga dari Fine production.
masalah yang dia hadapi sekarang umur aslinya ketahuan. haruka yang sebenarnya 24 tahun dipalsukan menjadi berumur 17 tahun oleh bos fuku. tapi mau 24 atau 17 tahun, haruka tetap haruka. selalu kuat dan tersenyum juga bersemangat. apalagi di vol. 13, haruka dan tsubasa dari smarki.jr resmi pacaran.
saya jadi iri. memang perkembangan hubungan mereka berjalan sangat lambat. haruka yang lebih tua menjadi tempat bersandar tsubasa. tapi haruka tetap perempuan, yang juga bisa rapuh. dan butuh tsubasa untuk menemani dan mendengarkan keluh kesahnya.
cewek yang lebih tua bukan berarti sudah lebih dewasa. walaupun dari luar kami tampak kuat dan kokoh, tapi kami tetap seperti kaca yang bisa retak. kami tak bisa menjadi kakak bagi cowok yang lebih muda, tapi kami bisa menjadi teman atau sahabat.
semoga hubungan haruka dan tsubasa berakhir dengan happy end.
masalah yang dia hadapi sekarang umur aslinya ketahuan. haruka yang sebenarnya 24 tahun dipalsukan menjadi berumur 17 tahun oleh bos fuku. tapi mau 24 atau 17 tahun, haruka tetap haruka. selalu kuat dan tersenyum juga bersemangat. apalagi di vol. 13, haruka dan tsubasa dari smarki.jr resmi pacaran.
saya jadi iri. memang perkembangan hubungan mereka berjalan sangat lambat. haruka yang lebih tua menjadi tempat bersandar tsubasa. tapi haruka tetap perempuan, yang juga bisa rapuh. dan butuh tsubasa untuk menemani dan mendengarkan keluh kesahnya.
cewek yang lebih tua bukan berarti sudah lebih dewasa. walaupun dari luar kami tampak kuat dan kokoh, tapi kami tetap seperti kaca yang bisa retak. kami tak bisa menjadi kakak bagi cowok yang lebih muda, tapi kami bisa menjadi teman atau sahabat.
semoga hubungan haruka dan tsubasa berakhir dengan happy end.
Saturday, September 24, 2011
Tuesday, September 20, 2011
"Woman"
Jadi begini ceritanya. Waktu lagi duduk duduk ama temen temen di teras gedung utama, kita disamperin neh ama satu orang yang keliatan lagi bingung banget
maba: "teh, mau nanya ruang ormik dimana yah?"
saya: "jurusan apa?"
maba: "teknik"
saya: (berlagak berpikir) "di ruang berapa?"
maba: "16.3A"
saya: "bukan kelas kamu tapi ruangannya"
Sang maba yang bingung makin bingung. Buka map trus ngeliat formulir dari universitas.
maba: "bener teh, 16.3A" (sambil nunjukin form nya)
sayangnya memang tidak ada keterangan ormik di ruangan berapa.
saya: "coba kamu tanya ke admin deh biar lebih jelas".
Akhirnya sang maba pun menuju baak. Selang beberapa saat, sang maba kembali. Kali ini dia bertanya pada temen temen saya yang masih diluar gedung. Karena tidak terdengar, saya kira mungkin dia menanyakan ruangan nomor sekian ada dimana-ruang kuliah di kampus saya diberi penomoran. Sang maba menengok ke atas, mungkin di lantai dua atau tiga. Masih bingung laki laki itu mencari cari letak tangga ke lantai atas. Teman saya menunjuk ke arah dalam gedung. Tangganya ada di dalam. Setelah berterimakasih sang maba segera masuk. Dengan yakin dia berjalan lurus saja sampai mentok di sebuah pintu yang terbuka. Laki laki itu masuk. Dua menit kemudian dia keluar sambil senyum senyum malu.Sebenarnya saya dan beberapa teman perempuan merasa lebih malu saat laki laki itu masuk dengan yakinnya. Ada tulisan "woman" di pintu masuk!
maba: "teh, mau nanya ruang ormik dimana yah?"
saya: "jurusan apa?"
maba: "teknik"
saya: (berlagak berpikir) "di ruang berapa?"
maba: "16.3A"
saya: "bukan kelas kamu tapi ruangannya"
Sang maba yang bingung makin bingung. Buka map trus ngeliat formulir dari universitas.
maba: "bener teh, 16.3A" (sambil nunjukin form nya)
sayangnya memang tidak ada keterangan ormik di ruangan berapa.
saya: "coba kamu tanya ke admin deh biar lebih jelas".
Akhirnya sang maba pun menuju baak. Selang beberapa saat, sang maba kembali. Kali ini dia bertanya pada temen temen saya yang masih diluar gedung. Karena tidak terdengar, saya kira mungkin dia menanyakan ruangan nomor sekian ada dimana-ruang kuliah di kampus saya diberi penomoran. Sang maba menengok ke atas, mungkin di lantai dua atau tiga. Masih bingung laki laki itu mencari cari letak tangga ke lantai atas. Teman saya menunjuk ke arah dalam gedung. Tangganya ada di dalam. Setelah berterimakasih sang maba segera masuk. Dengan yakin dia berjalan lurus saja sampai mentok di sebuah pintu yang terbuka. Laki laki itu masuk. Dua menit kemudian dia keluar sambil senyum senyum malu.Sebenarnya saya dan beberapa teman perempuan merasa lebih malu saat laki laki itu masuk dengan yakinnya. Ada tulisan "woman" di pintu masuk!
Monday, August 1, 2011
SahuR
Saya terbangun oleh dering telepon genggam yang sudah diatur malam tadi. Dingin langsung menyergap begitu mata terbuka benar. Rasanya ingin tidur barang sebentar lagi. Tapi saya tahu kalau itu saya lakukan saya bisa bablas sampai matahari tepat di atas kepala. Maka dengan masih mengantuk dan berbalut selimut, saya bergerak dari kasur. Mencuci muka dan kumur kumur adalah yang pertama terlintas di kepala saya. Tapi, ada ketukan dari ibu kost di pintu kamar saya.
“Ci udah bangun?”, sapa bu kost.
“Udah , Bu”, jawab saya.
“Ada lauk ga buat sahur? Nih ada sedikit..”, tambah bu kost. Yang saya jawab dengan “mau bikin indomie rebus” padahal lauk pagi ini rendang yang diberikan ibu kost dua hari lalu setelah pengajian di rumahnya.
Setelah menerima sedikit lauk, yang akhirnya saya ketahui sebagai tempe mendoan, dan sudah berakhir di mangkok nasi saya, ibu kost datang lagi.
“Nih buat tambahan. Ga perlu masak mie..”, ucapnya sambil menyodorkan semangkuk kecil sayur bening. Maka sahur pertama saya diisi dengan menu semangkok nasi yang tak lagi hangat, sepotong daging rendang, tiga potong mendoan, dan semangkuk sayur bening.
Itu cerita saya pagi ini. Pagi di sahur pertama tahun ini, yang harus lagi saya lewati sendiri, jauh dari rumah dan mama. Saya mencoba memutar kembali ingatan saya ke tahun tahun sebelumnya. Tapi yang membekas hanya sahur sewaktu saya masih sekolah menengah di rumah. Sahur yang tak mengharuskan saya kerepotan akan segala persiapannya karena mama selalu bangun lebih dahulu dan mempersiapkan semua hal sebelum membangunkan saya beserta kakak. Walaupun harus puas hanya dengan indomie rebus dan telur, sahur pertama yang dihadiri semua saudara terasa begitu hangat bagi saya.
Rasanya saya juga rindu oleh suara suara garin di mesjid yang membangunkan seisi kampong untuk sahur. Diawali dengan sirine panjang lalu ditambah panggilan “Sahur” berulang kali hingga limabelas menit sebelum imsak. Biasanya juga ada anak anak yang berkonvoi, membunyikan perkakas yang bisa membangunkan warga. Sambil berseru “sahur..sahur”.
Ah, betapa saya rindu dengan hal hal yang (mungkin) kecil seperti itu. Rindu pada kebersamaan keluarga kecil kami. Rindu pada suara suara yang begitu akrab di telinga yang takbisa saya dapatkan pagi ini. Rindu pada sahur yang hangat, di sahur pertama.
“Ci udah bangun?”, sapa bu kost.
“Udah , Bu”, jawab saya.
“Ada lauk ga buat sahur? Nih ada sedikit..”, tambah bu kost. Yang saya jawab dengan “mau bikin indomie rebus” padahal lauk pagi ini rendang yang diberikan ibu kost dua hari lalu setelah pengajian di rumahnya.
Setelah menerima sedikit lauk, yang akhirnya saya ketahui sebagai tempe mendoan, dan sudah berakhir di mangkok nasi saya, ibu kost datang lagi.
“Nih buat tambahan. Ga perlu masak mie..”, ucapnya sambil menyodorkan semangkuk kecil sayur bening. Maka sahur pertama saya diisi dengan menu semangkok nasi yang tak lagi hangat, sepotong daging rendang, tiga potong mendoan, dan semangkuk sayur bening.
Itu cerita saya pagi ini. Pagi di sahur pertama tahun ini, yang harus lagi saya lewati sendiri, jauh dari rumah dan mama. Saya mencoba memutar kembali ingatan saya ke tahun tahun sebelumnya. Tapi yang membekas hanya sahur sewaktu saya masih sekolah menengah di rumah. Sahur yang tak mengharuskan saya kerepotan akan segala persiapannya karena mama selalu bangun lebih dahulu dan mempersiapkan semua hal sebelum membangunkan saya beserta kakak. Walaupun harus puas hanya dengan indomie rebus dan telur, sahur pertama yang dihadiri semua saudara terasa begitu hangat bagi saya.
Rasanya saya juga rindu oleh suara suara garin di mesjid yang membangunkan seisi kampong untuk sahur. Diawali dengan sirine panjang lalu ditambah panggilan “Sahur” berulang kali hingga limabelas menit sebelum imsak. Biasanya juga ada anak anak yang berkonvoi, membunyikan perkakas yang bisa membangunkan warga. Sambil berseru “sahur..sahur”.
Ah, betapa saya rindu dengan hal hal yang (mungkin) kecil seperti itu. Rindu pada kebersamaan keluarga kecil kami. Rindu pada suara suara yang begitu akrab di telinga yang takbisa saya dapatkan pagi ini. Rindu pada sahur yang hangat, di sahur pertama.
Subscribe to:
Posts (Atom)