Siang ini saya belajar tentang hati. Membuka sembarang halaman di buku TOGOG, saya menemukan tulisan tentang Hati. Hati orang siapa yang tahu, begitu banyak yang bicara seperti ini bukan.
Menilik diri sendiri, saya juga tidak tahu bagaimana dengan milik saya ini. Apakah hati saya bersih atau tidak. Apakah hari ini, sehari penuh, hati saya akan dipenuhi kesenangan dan keceriaan atau tidak. Saya pun taktahu. Mungkin saja siang nanti, saat panas menggantikan kabut yang menusuk tulang pagi ini datang, hati saya pun menjadi panas, gerah lalu berubah amarah.
“Hati hati dengan hati// Hati hati mencari hati//”
Tiba tiba saya teringat sepenggal lagu. Yang menyanyikannya saya lupa siapa.
Hati hati dengan hati. Mungkin maksudnya berhatihatilah dengan hati orang lain. Jangan sampai menyakiti hati orang lain. Sebaiknya senangkanlah hati lain agar hatimu juga akan mendapatkan rasa senang yang mungkin lebih besar dari yang bisa kau berikan pada orang lain.
Hati hati mencari hati. Mendapatkan teman dekat atau kekasih bukanlah hal yang mudah bukan. Kita harus tahu bagaimana hatinya, bagaimana pengaruhnya terhadap hati kita. Tentu saja takada yang ingin punya kekasih yang hanya bisa membuat sakit hati. Teringat lagu Meggy Z,
“daripada sakit hati // lebih baik sakit gigi ini”.
Sebenarnya hati itu ada di sebelah mana dalam diri kita? Apakah berwujud? Dalam pelajaran biologi tentang anatomi, takditemukan hati. Adanya liver, jantung, dan paru. Tentunya takbisa disamakan dengan “ati-ampela” bukan. Saat sakit hati, senang hati, selalu yang kita tunjuk adalah dada(qalb). Tapi, “hati itu sendiri bukanlah gumpalan daging yang jika kau lemparkan sepuluh buah ke arah seekor anjing tidak akan membuatnya kenyang”. (Ahmad Sam’ani dalam Ruh-ruh yang tenang dalam menjelaskan namanama Raja Sang Penakluk)
Ada baiknya kita menjaga hati agar tetap bersih, mungkin tidak bersih sepenuhnya seperti bayi yang baru lahir, namun sebisamungkin jangan menambah virus virus yang bisa merusak hati.
No comments:
Post a Comment