Tuesday, September 20, 2011

"Woman"

Jadi begini ceritanya. Waktu lagi duduk duduk ama temen temen di teras gedung utama, kita disamperin neh ama satu orang yang keliatan lagi bingung banget
maba: "teh, mau nanya ruang ormik dimana yah?"
saya: "jurusan apa?"
maba: "teknik"
saya: (berlagak berpikir) "di ruang berapa?"
maba: "16.3A"
saya: "bukan kelas kamu tapi ruangannya"
Sang maba yang bingung makin bingung. Buka map trus ngeliat formulir dari universitas.
maba: "bener teh, 16.3A" (sambil nunjukin form nya)
sayangnya memang tidak ada keterangan ormik di ruangan berapa.
saya: "coba kamu tanya ke admin deh biar lebih jelas".
Akhirnya sang maba pun menuju baak. Selang beberapa saat, sang maba kembali. Kali ini dia bertanya pada temen temen saya yang masih diluar gedung. Karena tidak terdengar, saya kira mungkin dia menanyakan ruangan nomor sekian ada dimana-ruang kuliah di kampus saya diberi penomoran. Sang maba menengok ke atas, mungkin di lantai dua atau tiga. Masih bingung laki laki itu mencari cari letak tangga ke lantai atas. Teman saya menunjuk ke arah dalam gedung. Tangganya ada di dalam. Setelah berterimakasih sang maba segera masuk. Dengan yakin dia berjalan lurus saja sampai mentok di sebuah pintu yang terbuka. Laki laki itu masuk. Dua menit kemudian dia keluar sambil senyum senyum malu.Sebenarnya saya dan beberapa teman perempuan merasa lebih malu saat laki laki itu masuk dengan yakinnya. Ada tulisan "woman" di pintu masuk!

Monday, August 1, 2011

SahuR

Saya terbangun oleh dering telepon genggam yang sudah diatur malam tadi. Dingin langsung menyergap begitu mata terbuka benar. Rasanya ingin tidur barang sebentar lagi. Tapi saya tahu kalau itu saya lakukan saya bisa bablas sampai matahari tepat di atas kepala. Maka dengan masih mengantuk dan berbalut selimut, saya bergerak dari kasur. Mencuci muka dan kumur kumur adalah yang pertama terlintas di kepala saya. Tapi, ada ketukan dari ibu kost di pintu kamar saya.
“Ci udah bangun?”, sapa bu kost.
“Udah , Bu”, jawab saya.
“Ada lauk ga buat sahur? Nih ada sedikit..”, tambah bu kost. Yang saya jawab dengan “mau bikin indomie rebus” padahal lauk pagi ini rendang yang diberikan ibu kost dua hari lalu setelah pengajian di rumahnya.
Setelah menerima sedikit lauk, yang akhirnya saya ketahui sebagai tempe mendoan, dan sudah berakhir di mangkok nasi saya, ibu kost datang lagi.
“Nih buat tambahan. Ga perlu masak mie..”, ucapnya sambil menyodorkan semangkuk kecil sayur bening. Maka sahur pertama saya diisi dengan menu semangkok nasi yang tak lagi hangat, sepotong daging rendang, tiga potong mendoan, dan semangkuk sayur bening.
Itu cerita saya pagi ini. Pagi di sahur pertama tahun ini, yang harus lagi saya lewati sendiri, jauh dari rumah dan mama. Saya mencoba memutar kembali ingatan saya ke tahun tahun sebelumnya. Tapi yang membekas hanya sahur sewaktu saya masih sekolah menengah di rumah. Sahur yang tak mengharuskan saya kerepotan akan segala persiapannya karena mama selalu bangun lebih dahulu dan mempersiapkan semua hal sebelum membangunkan saya beserta kakak. Walaupun harus puas hanya dengan indomie rebus dan telur, sahur pertama yang dihadiri semua saudara terasa begitu hangat bagi saya.
Rasanya saya juga rindu oleh suara suara garin di mesjid yang membangunkan seisi kampong untuk sahur. Diawali dengan sirine panjang lalu ditambah panggilan “Sahur” berulang kali hingga limabelas menit sebelum imsak. Biasanya juga ada anak anak yang berkonvoi, membunyikan perkakas yang bisa membangunkan warga. Sambil berseru “sahur..sahur”.
Ah, betapa saya rindu dengan hal hal yang (mungkin) kecil seperti itu. Rindu pada kebersamaan keluarga kecil kami. Rindu pada suara suara yang begitu akrab di telinga yang takbisa saya dapatkan pagi ini. Rindu pada sahur yang hangat, di sahur pertama.

Saturday, July 30, 2011

kuRsuS

cuMa Sembilan kali Pertemuan, tepatnya delapan kali belajar dan Satu kali Ujian, selesailah sudah Kursus Photoshop yang saya ikuti. teknik teknik yanG diAjarkan sebenarnya hanya dasAr daSarnya. tentang penggunaan tool yang sebelum ikut kursus tak saya pahami benar. walaupun jauh dari harapan, selepas ujian rasanya cukup puas juga yang saya teRima. tadinya saYa berharap akan diajari teknik Vektor, tapi sayang beda jurusan.
jadi,,inilah hasil pertama yang dapat saya tampilkan:

*sekedar catatan:
gambar gadis berkerudung saya ambil dari salah satu dressup games yang saya mainkan.

Thursday, July 21, 2011

RaSa !

Saya ingat betul waktu pertama kali lihat iklan “Magnum: dengan cokelat Belgia” di teve, saya langsung ngiler untuk mencobanya. Langsung deh perburuan Magnum dimulai. Tapi, susahnya minta ampun. Tiap melewati mart yang ada spanduk Wall’s selau saya masuki dan selalu mendapat hasil yang sama, “Maaf,stok sedang kosong” atau “Datang lagi hari Rabu..”, itu saja jawaban dari pegawai mart. Pernah juga suatu kali saat sedang mengisi bensin di satu SPBU, ada warung yang terang-terangan memasang spanduk dan poster Magnum. Setelah lama meributkan siapa yang harus bertanya ke penjaga warung akhirnya didapat juga hasil yang sama. Nol. Magnum..Magnum, kemana lagi saya harus mencarimu. Sedih dan putus asa, saya taklagi mengharap banyak pada eskrim yang satu itu.

Hampir sebulan dan keinginan saya pun mulai pudar, datang pesan singkat dari teman. Teman yang sebenarnya perjuangannya lebih keras untuk mendapatkan keinginan saya itu, melebihi perjuangan saya. Saya takbegitu ingat isi pesannya, kira kira seperti ini: “boleh mampir ga”. Dan saya iyakan. Hari itu cuacanya benar benar panas. Matahari memuntahkan sinarnya dengan garang. Tapi teman saya tetap datang, membawa tentengan plastik ditangannya. Setelah bersapasapa ria sebentar, dan TA…DAH… bintang utama pun dikeluarkan. Ahh.. Magnum yang begitu saya idamkan kini ada di tangan saya. Berkilau layaknya permata, menarik-narik saya untuk mencicipinya. Rasanya sangat nikmat, puas, lezat, enak, menyenangkan. Semua hal indah yang pernah saya lewati kalah dari perasaan saya saat itu. Seperti mereguk air setelah dilanda kehausan yang sangat lama.

Tapi itu dulu. Sekarang Magnum ada dimana-mana, dan ada setiap hari di mart di dekat kost baru saya. Saya bisa saja menikmatinya kapan saja saya mau. Namun rasanya sudah berbeda. Yang sekarang terasa terlalu manis-lah, terlalu kecil-lah, terlalu biasa. Saya rasa perjuangan dan keinginan yang besar untuk mendapatkannya-lah yang membuat rasa Magnum yang saya makan hari itu terasa begitu lezat. Juga karena kebaikan hati teman yang rela berpanaspanas ria dan menemukan keajaiban Magnum di abang abang penjual eskrim hari itu, bukan di mart atau warung.

*sekedar catatan, Magnum yang saya rasakan pertama kali itu adalah Magnum almond.Sungguh rasanya sangat berbeda dengan yang saya makan malam ini. dan sampai hari ini, sudah semua varian baru magnum saya coba, classic, cappuccino, choco truffle.

Wednesday, April 27, 2011

bisakah, sanggupkah, mungkinkah?

bisakah saya bertahan? dengan angka angka yang semakin bertambah untuk dikejar. waktu yang terasa semakin cepat melintas. dan rupiah yang tetap sama dari bulan ke bulan.
bisakah saya bertumbuh? mencapai target. mewujudkan mimpi mimpi manis yang saya lihat begitu gemerlap. membawa kejayaan pada diri dan semua.
menyesal? ya, terkadang. saat menyadari pundi pundi semakin menipis, target terasa begitu jauh dan orang orang yang memulai di waktu yang sama sudah mengepakkan sayap mereka begitu lebar dan jauh melampaui saya.
senangkah? ya, lebih banyak. karena akhirnya saya bisa memiliki barang yang dulunya cuma bisa saya lihat di majalah, dalam pose pose para supermodel. satu langkah menjadi pribadi dengan penampilan menarik, pikir saya. walaupun masih belum terkumpul keberanian yang cukup untuk mengubah penampilan yang biasa biasa ini.
tapi untuk berhenti dan meninggalkannya begitu saja di tengah jalan, rasanya begitu berat. saya mulai menyukai dunia baru ini. bukan dunia maya seperti yang saya jelajahi setiap hari. bukan perkuliahan yang diisi dengan pembelajaran yang berkutat di hal yang sama. saya menyukainya seperti saya menyukai komik komik yang saya koleksi. yang membuat saya rela hanya makan mie instan untuk bisa membeli dua atau tiga komik yang terbit di hari yang sama. walau harga yang diperlukan untuk tetap bertahan akan meningkat pesat lebih dari harga komik yang naik dalam setahun sekali.
model di katalog memandang saya dengan tatapan sedih. ah saya merasa begitu menyedihkan.
saya tahu kemampuan ekonomi saya tidak bisa membawa saya untuk memiliki semua hal yang saya inginkan. bulan kemarin saya memaksapakaikan uang belanja saya untuk mencapai target. tapi bulan ini saya berpikir dua kali. uang belanja bisa saya pakai untuk sekedar membeli oleh oleh saat saya pulang nanti.
sekarang saya bisa apa? begitu ingin mewujudkan niat untuk memberikan bonus di bulan kedua ini untuk seseorang di hari bahagianya nanti. saya tahu orang itu tak mungkin mau memaksa saya, tapi saya tetap ingin memberikan satu yang baik untuknya. walau saya harus sedikit berurusan dengan perut. saya juga tak ingin hanya mengejar bonus lalu kelelahan setelah bonus bonus sirna. saya ingin jika saya bisa melewati semua target bonus di tiga bulan pertama ini, nantinya saya akan lebih berusaha untuk menaikkan level. seperti semua games yang saya mainkan. mengejar target tertinggi adalah kesenangan dan kepuasan. lalu kenapa tidak saya anggap saja semisal dunia baru ini adalah salah satu game yang sedang saya mainkan.
lihatlah, sekarang saya bersemangat lagi. ahh menulis memang menyenangkan. membuat semua galau di dada menghilang.
sudah jam 11 lewat 20 menit malam sekarang.

Wednesday, March 23, 2011

Teman Perjalanan Pagi ini

Pagi ini, seperti biasa, saya menyusuri jalan yang sama. Jalan yang membawa saya ke kampus. Melewati semacam perkampungan yang diriuhi anak anak bahkan orang tua, yang duduk duduk di teras rumah. Takseorang pun yang saya kenal, hanya sekedar pernah melihat karena kebiasaan mereka selalu menemani perjalanan limabelas menit saya setiap pagi. Mungkin suatu saat saya akan berbincang dan mengenal mereka lebih dekat entah untuk alasan apa.

Jalanan yang saya lewati merupakan sebuah gang yang juga memiliki cabang cabang kecil lain di beberapa tempat. Juga sebuah gang menuju komplek perumahan. Mata saya tersirobok pada suatu sosok. Sosok yang saya kenal betul selama satu semester. Sosok seorang teman yang senang akan kesendiriannya. Sosok yang mengenakan sweater abu abu dengan kupluk di kepala dan tas punggung. Sedangkan tampak depan, sosok itu selalu menyampirkan headset ke telinganya. Mungkin mendengar lagu kesukaannya atau mungkin sedang berbincang asik di telepon.

Sebelumnya saya sudah mengetahui bahwa seorang teman tinggal di daerah yang sama dengan saya. Tapi belum pernah sekalipun kami berpapasan di jalan. Atau seperti pagi ini saat saya melihat sosoknya yang berjalan dengan caranya yang khas, di depan saya, keluar dari arah kompleks perumahan. Sengaja saya pelankan langkah, pikiran saya bermunculan banyak pertanyaan. Dan kalimat “AHA, akhirnya hari itu datang juga”. Saya merangkai untaian kata yang sekarang saya tuangkan disini. Beberapa pertanyaan yang entah kapan akan saya tanyakan langsung padanya. Pada teman yang lebih suka menutup dirinya.

Bandung, 24 March 2011